Rico Waas Akhiri Ramadhan Fair XX dengan Transaksi UMKM Mencapai Rp2,2 Miliar

Ramadhan Fair XX yang diadakan selama bulan suci ini berhasil mencatatkan transaksi yang mengesankan sebesar Rp2,2 miliar. Kegiatan tahunan yang menjadi magnet bagi masyarakat ini resmi ditutup oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, pada tanggal 16 Maret 2026. Dengan partisipasi berbagai pelaku usaha, acara ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal.

Tradisi dan Identitas Kota Medan

Rico Waas, yang didampingi oleh Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, menegaskan bahwa Ramadhan Fair telah menjadi bagian integral dari identitas Kota Medan selama dua dekade terakhir. Kegiatan ini tidak sekadar agenda tahunan, tetapi juga menciptakan ruang interaksi sosial dan sarana syiar agama bagi masyarakat di bulan Ramadan yang penuh berkah.

“Kegiatan ini telah menjadi tradisi yang sangat bermakna bagi masyarakat Medan. Lebih dari sekadar bazar, ini adalah momen kebersamaan yang sangat dinantikan setiap tahun,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan Fair lebih dari sekadar pasar; ia berfungsi sebagai ajang untuk memperkuat ikatan masyarakat dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Pentingnya Partisipasi UMKM

Di tengah kesuksesan acara ini, salah satu faktor kunci yang membuat Ramadhan Fair istimewa adalah keterlibatan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tahun ini, sekitar 150 gerai kuliner dan berbagai stan kriya turut meramaikan lokasi di sekitar Masjid Raya Al-Mashun dan Taman Sri Deli. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya UMKM dalam mendorong perputaran ekonomi lokal.

“Ramadhan Fair bukan hanya sekadar perayaan budaya dan religius, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah kita,” jelas Rico Waas. Dengan demikian, keberadaan UMKM dalam acara ini memberikan dampak signifikan pada perekonomian lokal dan menciptakan banyak lapangan kerja.

Data Transaksi dan Antusiasme Masyarakat

Menurut laporan panitia, selama penyelenggaraan Ramadhan Fair tahun ini, total transaksi mencapai sekitar Rp2,2 miliar, dengan rata-rata penjualan harian sekitar Rp110 juta. Angka tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat, yang tercermin dari jumlah pengunjung yang mencapai sekitar dua ribu orang setiap harinya.

Aktivitas Spiritual dan Edukasi

Selain bazar kuliner dan produk UMKM, Ramadhan Fair juga diisi dengan beragam aktivitas yang memperkaya nilai-nilai spiritual masyarakat. Kegiatan ini mencakup tausiyah, lomba-lomba Islami, seperti da’i cilik dan azan, serta hafalan surah pendek. Peringatan Nuzulul Qur’an juga menjadi bagian dari rangkaian acara, yang semakin menambah makna bulan suci ini.

Dengan adanya berbagai aktivitas tersebut, masyarakat tidak hanya berbelanja, tetapi juga mendapatkan pengalaman edukatif dan spiritual yang bermanfaat. Ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai agama dan budaya di tengah kesibukan modern saat ini.

Refleksi Nilai-Nilai Ramadan

Menjelang akhir bulan suci Ramadan, Rico Waas mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai positif yang didapat selama Ramadan sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti kesabaran, kepedulian, kebersamaan, dan keikhlasan sangat penting untuk terus dipelihara.

“Ramadan telah mengajarkan kita banyak hal, termasuk bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dalam bermasyarakat. Nilai-nilai ini harus tetap kita jaga dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta dalam proses membangun Kota Medan yang kita cintai,” tambahnya, menekankan pentingnya menerapkan pelajaran dari bulan suci ini dalam interaksi sosial dan pembangunan komunitas.

Harapan untuk Ramadhan Fair di Masa Depan

Rico Waas berharap agar Ramadhan Fair tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga terus berkembang menjadi ruang budaya, ekonomi, dan kebersamaan bagi masyarakat Kota Medan. Ia percaya bahwa dengan dukungan semua pihak, acara ini dapat semakin bermanfaat dan memberi dampak positif bagi perekonomian daerah serta mempererat hubungan antarwarga.

Dengan antusiasme yang tinggi dari masyarakat dan keterlibatan aktif para pelaku UMKM, Ramadhan Fair diharapkan menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Momen ini bukan hanya untuk merayakan bulan suci, tetapi juga untuk memupuk nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam membangun kota yang lebih baik.

Dengan demikian, Ramadhan Fair bukan hanya sekadar bazar, melainkan sebuah perayaan yang menciptakan kesempatan bagi semua orang untuk terlibat, berkontribusi, dan merasakan kebersamaan yang hakiki. Semoga acara ini dapat terus berlangsung dan berkembang di masa mendatang, selaras dengan tujuan untuk membangun masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis.

➡️ Baca Juga: Panitia Harungguan Bolon Purba Pakpak Laksanakan Kegiatan Bakti Sosial di Panti Asuhan Pematangsiantar

➡️ Baca Juga: Menghadapi PHK dan Ketidakpastian Karier di Masa Sulit

Exit mobile version